Cara Mudah Membuat Resep Wingko Babat Asli Enak

Wingko Babat
By: Wiwin Almar’ah Qowiyy

Loading...

Bahan-bahan :

  • 100 gr kelapa parut
  • 60 gr tepung ketan putih
  • 5 sdm gula pasir (sesuai selera)
  • 1/2 sdm mentega/margarin
  • secukupnya air

Langkah :

  1.  Campur semua bahan, tambahkan air sedikit demi sedikit sampai adonan bisa di bentuk
  2. Panaskan teflon dengan api paling kecil agar adonan sewaktu memanggang tidak gosong
  3. Panggang adonan wingko sampai agak kecoklatan

NB: saat memanggang tutup teflon dengan tutup panci ya agar matangnya merata

Wingko siap disajikan

Sumber: https://cookpad.com/id/resep/2785498-wingko-babat

Catatan: Bunda sering tidak melihat resep kita? coba komentar, like atau share biar facebook mencatat ibu adalah anggota dari halaman kami. jadi postingan resep kita akan muncul secara otomatis di beranda bunda. selamat mencoba yaa 🙂

Tips Membuat Wingko Babat Enak

Maaf ya, baru bisa memenuhi janji untuk membuatkan artikel tentang Resep Wingko Babat enak. Saya merasa perlu melakukan ujicoba berkali-kali dan setelah beroleh hasil kue wingko babat yang enak untuk bisa membuat artikel ini.

Tulisan ini saya buat setelah hasil uji coba ke-7 saya membuat kue wingko babat. Setelah saya memastikan bahwa takaran bahannya sudah pas, rasanya sudah digandrungi oleh seseorang yang selama ini ada dibalik motivasi saya menyelami kegiatan memasak.

Catatan kegagalan tiap ujicoba:

Uji coba pertama: saya menambahkan susu kedelai bubuk sebagai pengganti santan, nggak pakai telur karena belum tahu, nggak pake vanili karna masih ragu dengan proses pembuatannya (katanya melibatkan katalisator dari babi). Semua bahan diaduk bareng. Hasilnya sudah enak. Tapi rasa asin dan manisnya tidak merata. Setelah saya renungkan, mungkin karena saya campur semua bahan serta merta, seharusnya telur dan air diakhirkan. Trus juga kelamaan di depan kompor karena masaknya pake wajan cekung, belum ada teflon.

Uji coba kedua: selain bahan-bahan pada ujicoba pertama tetap saya pertahankan, saya tambahkan pula buah nangka yang sudah di blender (ada teman yang menyarankan demikian). Rasanya enak, tapi bikin buang angin terus-terusan. Nggak tahu ya kenapa… kayaknya tepung ketan ketemu sama nangka nggak cocok deh. Soalnya bisa membuat gas berlebih pada saluran cerna. Atau mungkin porsi buah nangka yang saya masukkan kebanyakan kali ya… Ketika para tetangga saya kasih cicip kue gagal tersebut, mereka menyarankan untuk menambahkan telur.

Ujicoba ketiga: Susu kedelai sudah tidak saya pakai lagi, diganti dengan air putih secukupnya. Saya sengaja nggak pakai santan, karna kelapa parut saja sudah mengandung santan, nanti kalau pakai santan lagi jadi nya over lemak. Nggak bagus untuk kesehatan jantung. Pada ujicoba ketiga ini saya masih belum pakai telur, karna kata suami saya “Nanti amis, Bun…” Iya juga ya pikir saya membenarkan. Untuk memanggang wingko saya sudah beli cetakan khusus apem yang bulat-bulat. Biar tidak lengket saya olesi mentega. Hasilnya, lumayan enak.

Ujicoba ke-empat: saya ikuti saran tetangga saya untuk menambahkan telur. Tapi saya nggak bilang-bilang ke suami, kalo adonanya ditambah telur. Ditambahi juga vanili (kata teman, cari vanili yang ada logo halal MUI). Ternyata saya malah nggak suka bau vanilinya. Tapi ada kemajuan lagi, yaitu hasil irisan nggak se-lengket sebelumnya. Suami juga tambah senang karena wingkonya tambah enak. Meski sudah saya kasih tahu bahwa adonannya saya tambahin telur, ternyata nggak amis sebagaimana yang kita duga ya Bun… but, masih tetep lama-lama di depan kompor karena pakai cetakan apem.

Ujicoba kelima, saya dinasehatin bapak-bapak tukang jual kelapa parut di pasar, agar masaknya pakai teflon saja biar praktis, trus kelapanya yang setengah tua dan kasar marutnya. Kalau kelapa muda, nanti hasilnya mimpes katanya. Rupanya ibu mertua bapak tadi demen sangat bikin wingko babat.

Nasehat bapak tadi saya praktikkan dan ceritakan ke suami, eh sore harinya saya dapet hadiah teflon baru dari beliau. Hee… Matur thankiyu ya Nda… 🙂

Ujicoba keenam, bahan-bahan sama seperti di atas, cuma tanpa vanili dan santan. Masaknya sudah pakai teflon. Bener kata pak tukang kelapa. Lebih praktis. Wangi kelapanya semerbak sampai kemana-mana. Nah adonan tadi saya bagi dua loyang masaknya, terlalu tipis. Hasilnya: dua Loyang tersebut ludes seketika.

Ujicoba ketujuh, seperti yang saya telah lakukan pada ujicoba keenam, namun seluruh adonan saya tuang dalam satu loyang, agak tebal. Biasanya, begitu wingko matang langsung saya potong dan hidangkan. Namun tidak kali ini, karena buatnya ba’da isya, anak-anak sudah mau tidur. Begitu juga suami ada agenda kajian Islam sampai jam 10 malam, pulang-pulang kecapean nggak sempat saya sajikan. Namun sudah saya kabarkan bahwa wingko babat sudah matang via BBM.

Eh besok paginya beliau yang menagih. “Bunda bikin wingko ya..” saya baru ingat, bahkan belum saya keluarkan dari Teflon. Bergegas, mengambil wingko dan memotongnya. Ternyata hasil potongan ketika dingin dan panas beda ya… bagusan yang sudah dingin. Rasanya juga begitu. Tebalnya juga sudah proporsional.

Jadi deh, pagi itu kami sarapan wingko tanpa anak-anak, karna mereka masih terlelap tidur. Sambil cerita ngalor-ngidul, gak terasa se loyang nyaris habis. Masya Allah… gak papa, I make it special for You kok Nda… 🙂

Demikianlah Tips membuat Wingko Babat Enak Semoga bermanfaat ya… sampai jumpa pada artikel selanjutnya

Loading...